Entertainment

5 Film Lokal “Worth to Watch” 2017

Dunia perfilman tanah air kian hari kian menunjukan eksistensi dan prestasinya. Hal tersebut tampak dari banyaknya film nasional  yang bermunculan di layar lebar tanah air dari tahun ke tahun, dan tidak sedikit pula dari film-film tersebut yang meraih prestasi mencegangkan. Seperti film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang meraih 2 rekor MURI sekaligus, dalam kategori Film dengan Jumlah Penonton Terbanyak dan Film dengan Jumlah Penonton Tercepat. Ada juga film nasional yang berhasil meraih prestasi di taraf internasional, seperti The Raid: Redemption dan The Raid: Berandal yang berhasil masuk ke dalam box office dunia.

Akan prestasi-prestasi tersebut, tanah air perlu merasa bangga. Sebab prestasi tersebut tidak mungkin diraih tanpa andil dari seluruh masyarakat. Oleh karenanya kita patut mempertahankan dan meningkatkannya, dengan belajar mencintai dan memberikan dukugan terhadap film-film lokal.

Berikut 5 daftar film lokal yang akan tayang di tahun 2017, yang diprediksi akan menggebrak dunia perfilman nasional:

  1. Kartini

Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini diperkirakan akan tayang pada bulan April mendatang. Film ini menceritakan kisah perjuangan tokoh emansipasi wanita, R A Kartini. Keinginannya untuk mengenyam pendidikan tinggi harus pupus karena kondisi keluarga dan situasi pada saat itu yang tidak mendukung. Dilema antara menerima lamaran demi menjaga kesehatan ayah kandungnya atau merelakan masa depan dan membiarkan sekolah wanita yang telah didirikannya karam.

  1. Istirahatlah Kata-kata

Film karya Yosep Anggi Noen ini menceritakan kisah tentang seorang aktivis pada zaman orde baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto, bernama Wiji Thukul. Wiji Thukul merupakan seorang aktivis yang tidak pernah lelah untuk menyuarakan demokrasi, yang dituangkannya dalam bentuk puisi-puisi. Hingga terjadiny kerusuhan pada Juli 1996, yang menjadikan Wiji sebagai tersangka. Status buronan membuat Wiji terpaksa harus melarikan diri selama 8 bulan lamanya ke Pontianak, sebelum akhirnya beliau menghilang di tahun 1998, dan hingga kini tidak ditemukan keberadaannya. Film ini akan menceritakan bagaimana kehidupan Wiji selama pelariannya di Pontianak.

  1. Surga yang Tak Dirindukan 2

Kesuksesan film pertamanya di tahun 2015 membuat sutradara Hanung Bramantyo menggarap sekuel dari film ini. Bila di episode pertama bercerita mengenai kehadiran seorang wanita bernama Meirose kedalam kehidupan pasangan Pras dan Arini, yang berujung pada poligami; film kedua Surga yang Tak Dirindukan bercerita mengenai Arini yang memohon kepada Meirose untuk kembali tinggal dalam kehidupan rumah tangga mereka, untuk merawat suami serta anaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa seorang istri sanggup meminta wanita lain untuk merawat suami dan anak-anaknya? Jawabannya dapat anda temukan di bioskop-bioskop kesayangan anda pada bulan Februari mendatang.

  1. Critical Eleven

Merupakan film roman yang diadaptasi dari novel karya Ika Natassa, yang telah lama dinanti-nanti oleh para pecinta drama roman. Mengisahkan tentang Ale dan Anya yang bertemu dalam penerbangan Jakarta menuju Sydney, lalu kemudian menikah. Namun setelah 5 tahun usia pernikahan mereka, sepasang kekasih ini dihadapkan pada suatu tragedi besar, yang membuat mereka perlu mengevaluasi hubungan mereka selama ini, termasuk pertemuan mereka dalam penerbangan waktu itu.

  1. The Last Barongsai

Film garapan Ario Rubbik ini menceritakan tentang kegalauan seorang anak bernama Aguan dalam menentukan pilihan hidup. Memilih cita-citanya untuk melanjutkan bersekolah ke Negeri Singa ataukah membawa tradisi leluhurnya menuju jenjang yang lebih tinggi, yakni mengikuti kejuaraan barongsai. Hari dimana kejuaraan barongsai itu dimulai bertepatan dengan hari pendaftaran ulang beasiswa yang ia terima dari Nanyang University di Singapura. Aguan hanya diberikan 1 kesempatan untuk memilih dan pilihannya akan membawa perubahan dalam hidup Aguan selamanya. Jalan manakah yang akan Aguan pilih? Film The Last Barongsai ini merupakan adaptasi dari novel karya Rano Karno dengan judul yang sama.