Entertainment

Penutup SIPFest 2016: Mahakarya Eko Supriyanto dan Evolusi Bahasa dalam Kalanari Theatre

Menutup perhelatan Salihara International Performing-arts Festival 2016, Eko Supriyanto menampilkan karya terbarunya yang berjudul “Balabala”. Menampilkan lima gadis muda asal Jailolo, Maluku Utara, Balabalamenyingkapkan kekuatan perempuan dalam tiap gerakannya. Gerakan lambat dan berirama mendekonstruksi bentuk dan irama tarian Cakalele dan Soya-soya yang selama ini dimainkan oleh laki-laki. Anda akan menjadi orang pertama yang menyaksikan world premiere tari Balabala yang setelah ditampilkan SIPFest akan segera dipentaskan di Australia, Jepang, Belgia, Jerman, Belanda dan Taiwan.

Eko Supriyanto adalah koreografer Indonesia yang telah meraih pengakuan internasional. Sebelum menjadi koreografer, Eko pernah meanri untuk pentasDrowned World Tour Madonna (2001) serta konsultan untuk musikal The Lion King (2000). Saat ini Eko fokus untuk Ekosdance Company yang menjadi wadah dalam rekontekstual tarian daerah berdasar tarian kontemporer. SebelumBalabala, Ekosdance Company sempat memukai penonton di Jepang melalui tariCry Jailolo tahun lalu.

Sementara dalam Kalanari Theatre Movement, sebuah kelompok teater yang berusaha meneguhkan kembali ikatan pertunjukan dan masyarakat serta menggugah masyarakat untuk mengembangkan kebudayaan. Sejak awal, Kalanari konsisten mengusung konsep pertunjukan yang tidak terikat dengan panggung di ruang tertutup. Segala arena luar ruang, dari tempat parkir hingga atap bangunan, adalah panggung yang pernah mereka gunakan untuk menampilkan karya. Pada perkembangan, Kalanari menempatkan ruang sebagai bagian penting dari pertunjukan. Hasilnya adalah pertunjukan yang tidak hanya menyajikan cerita namun juga tanggapan terhadap ruang pementasan sebagai bagian dari narasi di atas panggung. Karya-karya Kalanari, antara lain Menggali Pustaka Candi (2014), Kapai-Kapai atawa Gayuh (2013), Topeng Ruwat: Ritus Pertunjukan (2012), selalu bersifat site-specific.